Om Swastiastu,

My name is Gde Wibisana Singgih Wilasa, But some of friends called me Tualen or Malen. Born in Semarang, Central Java on 1979. Yes, I am old enough. I have family and also have kids with me. Live in Canggu, Nort Kuta. Bali. Wishes for all best in your life and my live always. And might God blessing all of us with fortune and talent.

Wife

Masa sekolah adalah masa terindah.

Serasa kalimat itu adalah kalimat yang tepat. Kenapa? Nah itulah realitanya. Sebuah kenyataan dimana saya menemukan tambatan masa depan dan memetik sekuntum “tulip” pada masa sekolah (SMU tepatnya). Yang akhirnya menemani kehidupan saya ke masa yang akan datang dengan penuh keteguhan hati.

Sekilas saya kembali ke masa belasan tahun yang lalu, masa dimana saya tentunya masih sangat muda dan berperawakan tidak tambun seperti sekarang ini. Yup, pada saat itu kehidupan masih teramat mudah untuk diingat. Kegiatan sehari-hari tidaklah sebanyak saat ini, dan beban pikiran pun tidak sebejibun sekarang ini.

Pada masa sekolah ini, rutinitas yang masih aku ingat di tahun 1994 adalah : pagi berangkat ke sawah buat sekedar merawat padi milik paman dan nenekku. Mungkin anda tidak percaya, tapi sungguh terjadi. ada sebuah kenikmatan tersendiri ketika saya berada di sawah. Tapi yang pasti kondisi cuacanya tidak seperti tahun 2010 ini. Pada masa itu masih sangat sejuk pulau ini.

Bunga “Tulip” terkasih ….

Setahun sudah menimba ilmu di SMUN 1 Kuta Utara (pada saat itu SMAN 1 Kuta alias SMANTA), akhirnya tiba saatnya “PEMBALASAN” pada masa Orientasi / OSPEK. Hal yang sangat wajar dirasakan oleh seluruh anggota anak tanggung (siswa kelas 1 yang baru naik ke kelas 2) yang mendapatkan kesempatan turut berpartisipasi bersama dengan OSIS. Kalo sudah ada kegiatan non kurikulum seperti ini, aku selalu saja jadi semangat. Dan disanalah aku temukan “Tulip-ku” terkasih.

Kenapa ingat? jujur entah apa yang membuatku tertarik pada sosok istriku sekarang pada saat itu. yang pasti aku ingat, dia bersama adikknya (yang awalnya kupikir kembarannya) melakukan registrasi dan pendaftaran ulang guna mendapatkan seragam dan kostim OSPEK terakhir-terakhir. Seandainya saja kedua orang ini mendaftar pada masa awal sesuai jadwalnya tentunya aku tak akan bertemu dengannya. Bertemu dengan Ni Luh Putu Ary Widiastuti, ibu dari kedua anakku sekarang.

Berjalan seperti kebanyakan orang pada masa pacarannya. Nonton di Cinema 21 setelah itu makan malam di lesehan di Jalan Diponegoro menjadi sebuah keindahan tersendiri bagi kami berdua. Perjalanan dari Dalung (tempatku kost pada masa itu) menuju Kerobokan, guna menjemput Bunga Tulipku Terkasih merupakan perjalanan paling mendebarkan. Sementara perjalanan dari Kerobokan ke berbagai tempat tujuan kami adalah perjalanan tercepat di dunia.

Oh ya, pada masa itu tahun 1995 akhir tepatnya – gaya berpacaran kami masih sangat kental dengan aturan-aturan dan berbagai hal tabu lainyya. Masih teringat kala pernah kami pulang agak telat, sekitar pukul 22.30 kalo nda salah. Terlambat 30 menit dari batas jam malam …… wah saat itu merupakan malam paling mencekam ketika mengantarkannya pulang ke rumah. Tidak ada SMS apalagi Facebook  seperti sekarang, kalo mau telpon ya pake telpon rumah deh.

Menikah di tahun ke-12

Ternyata tidak mudah mengambil keputusan untuk menikah. Butuh keberanian tinggi. Atau mungkin samar karena segala yang aku lakukan menjadi keputusanku sendiri dan aku lakukan sendiri. Setelah berbagai dilema dan permasalahan yang mendera dalam kehidupan kami berdua, akhirnya kami menikah juga setelah masa pacaran kami menginjak tahun ke – 12.

Go back to top