Om Swastiastu,

My name is Gde Wibisana Singgih Wilasa, But some of friends called me Tualen or Malen. Born in Semarang, Central Java on 1979. Yes, I am old enough. I have family and also have kids with me. Live in Canggu, Nort Kuta. Bali. Wishes for all best in your life and my live always. And might God blessing all of us with fortune and talent.

Setengah Kehilangan

“Biarlah KehendakMu jadilah, jangan kehendakku yang jadi. Sebab Engkau Hyang Widhi yang maha tahu apa yang terbaik bagiku.”

Manusia pada dasarnya adalah mahkluk ciptaan Hyang Paramakawi yang maha kompleks. Beberapa ajaran agama menyebutkan bahwa manusia diciptakan serupa dengan rupa Allah, diciptakan dengan Kasih Karunia Hyang Maha Kuasa. Dan Maha Besar Allah menciptakan manusia memiliki akal dan pikiran – yang tidak dimiliki oleh mahluk ciptaan lainnya.

Hari ini adalah hari yang cerah yang dihadiahkan oleh Hyang Paramakawi kepada Manusia. Saking indahnya, hingga Beliau menitipkan kepadaku banyak hal yang menjadi pelajaran yang bisa kupetik melebihi apa yang kupetik di hari sebelumnya. Tanpa media manifes yang Hyang Paramakawi berikan melalui mataku, namun langsung memberikannya melalui rasa.

Sungguh semalam merupakan perjuangan bathinku yang sungguh luar biasa. Betapa kecemasan bisa berubah menjadi ketakutan yang mendalam sebelum akhirnya mematikan segala syaraf di tubuh ini, melemahkan otak dan memberikan hujaman rasa yang seolah membanting raga ini dari ketinggian landing sebuah Boing 747, dengan kecepatan yang mengalahkan kecepatan petir. Bruakkkkkkk!!!! segalanya menjadi gelap seketika. Nafas terasa tersedak dalam dada, hingga tak mampu paru-paru ini memasok oksigen dengan cepat. Huph….!!!1

Setengah terkaget terbangun aku dari lelapku yang baru saja hitungan menit kunikmati. Kulirik jam di dinding masih menunjuk angka kecil dinihari. Bathinku berdegup dengan kencangnya, memunculkan tanya yang tak batas jumlahnya dimana diantaranya kuyakini akan ada sesuatu yang diambil olehNya dariku…………. Bayangkan saja betapa menyesakkannya jika rasa itu menghantuimu sepagian ini.

Sejenak dalam lemah seorang manusia aku terhenyak, hingga akhirnya ada doa diantara jiwa ini yang terngiang dan mendadak mulai kulantunkan lirih. Sebuah Mantram Gayatri. Kulirihkan dalam benak dan bibirku berulang-ulang, hingga tak lagi kuhitungkan jumlahnya telah kulantunkan.

Ratusan lantunan doa ini kupanjatkan ke hadiratNya dengan harap tenangkan hati dan jiwa ini. “Om…. Om…. Om Bhur Bhvah Svah, Tat savitur varenyam, Bhargo devasya dimahi, Dhiyo yo nah pracodayat” – Sebuah doa sederhana yang langsung teringat kulantunkan. “Tuhan adalah bhur svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita, sehingga bisa tenangkan jiwaku”

Beberapa jam lamanya, sebelum akhirnya bisa kutenangkan bathin dan hati ini. Dan ternyata memang aku sedang mengalami prosesi peringatan dan pemberitahuan dari Hyang Paramakawi akan “Setengah Kehilanganku” yang hendak terjadi di esok harinya. Sesungguhnya aku sadari aku tidak kehilangan, dan Hyang Paramakawi pun tak lekang untuk mengambil seutuhnya dariku. Namun, Hyang Paramakawi punya rencana Maha Rahasia yang ditimpakan kepadaku, dan kepada milikku untuk menjalani “destiny” yang maha unik pula. Tetap saja menjadi milikku, hanya saja tak sepenuhnya saja. Inilah yang kusebutkan dengan “Setengah Kehilangan“.

Sungguh hingga matahari ada tepat diatasku, aku mulau berangsur menyadari atas apa yang sedang terjadi. Aku bisa menerima dan merelakan Setengah Kehilanganku ini dengan bijak, tanpa gejolak bathin yang meluap-luap seperti biasanya. Sungguh setengah kehilangan yang maha berat, namun tetap saja harus kulalui untuk menggenapkan apa yang telah dituliskan oleh Hyang Paramakawi pada buku catatan kehidupanku.

Sekalipun Setengah Kehilangan ini menghujamku, aku tetap akan berteguh dan bertahan dalam sebuah perjalanan hidup karena toh dengan ada atau tidaknya Setengah Kehilangan ini aku tetap harus jalani, tetap memperjuangkannya demi setengahnya yang lain. Sehingga kini bisa kusyukuri keberkahan atas Setengah Kehilangan ini secara bijak dan dewasa. Ya….. aku bersyukur aku masih tetap diberi kesempatan memiliki dan masih diberi kesempatan untuk bertahan oleh Hyang Paramakawi. Dan aku masih bisa melantunkan Doa indah lainnya, menghantarkan Kehendak Mu Hyang Paramakawi.

Biarlah KehendakMu jadilah, jangan kehendakku yang jadi. Sebab Engkau Hyang Widhi yang maha tahu apa yang terbaik bagiku.” Seperti doa yang menghantarkan kepergian Ayahandaku ke haribaMu, dua puluh tahun yang lalu. Inilah yang terbaik bagiku.

Om dewakrtasyainaso awaya janam, Asi manusyakrtasi nama awaya janam, Asipitra kitasi namo awaya janam asyatma, Krtasyaenaso awaya janam, Asyena sa’enase waya janam asi, Yacchaham eno vidvamscakara, Yacchavidvams tasya va ya janam asi ” Kupanjatkan mengakhiri dosaku dalam berpikiran dan berkehendak dan berketakutan yang tak beralasan meragukan segala kehendakMu Hyang Paramakawi.

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba terhadapMu, ampunilah dosa hamba terhadap sesama manusia, terhadap orangtua hamba, terhadap teman hamba, Tuhan ampunilah dosa hamba terhadap segala macam dosa, terhadap dosa yang hamba lakukan dengan sadar atau tidak sadar. Tuhan, semoga berkenan mengampuni semuanya itu. “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Go back to top