Masih Terasa Duka
Sekian lamanya telah kucoba untuk tidak membuka halaman-halaman yang mengingatkan akan kenangan yang tak menyenangkan, yang sedikit meninggalkan luka di hati ini. Betapa aku merasa diabaikan, betapa aku merasa sebagai seseorang yang terabaikan. Memang waktu dan kekuatan Hyang Paramakawi yang membuatku bisa merasa bahagia, namun diantara kebahagiaan yang dianugerahkan juga diberikannya rasa duka sebagai penyeimbang dalam kehidupan anak manusia.
Seandainya saja kubiarkan hasratku untuk membuka halaman-halaman tersebut masih kubiarkan ketat, dan tak kulanggar sendiri, mungkin malam ini akan terasa lebih menenangkan. Namun entahlah, kenapa kubiarkan jari-jari ini membuka halaman-halaman tersebut, mengapa kubiarkan mata ini membaca begitu teliti satu demi kata komentar dan tulisan-tulisan tersebut. Kenapa kubiarkan kepala ini mencerna makna dari masing-masing kata dan doa yang tertuang di halaman tersebut.
Seandainya saja tak kuijinkan keingintahuan ini mengalahkan peraturan yang tengah kuterapkan untuk menjaga rasa di hati ini. Mungkin inilah realita yang harus dihadapi. Diantara segala bahagia akan diimbangi dengan duka. Diantara kemenangan yang kugapai juga diimbangi dengan kekalahan yang rupanya juga mengimbangi. Dan inilah kenyataan berat yang harus kuhadapi. Malam ini kubuka lembaran-lembaran yang melukai aku dalam berbagai ucapan dan doa yang kubaca.
Mungkin ini juga salahku, kenapa harus kuanggap sebagai duka doa-doa yang terucap disana? Bukankan doa adalah hal terindah manusia yang diungkap dan dimohonkan kepada Penciptanya? Bukankah aku juga selalu memanjatkan doa untuk yang terbaik? Bukankah aku sendiri juga memohonkan melalui berbagai doa yang terpanjatkan agar “KehendakMu yang jadi, jangan kehendakku” beberapa saat yang lalu? Bukankan aku juga memohonkan yang terbaik buat ini semua?
Sudahlah….. harus aku akui bahwa malam ini aku sedikit menyesal membuka halaman yang kembali mengingatkanku akan duka yang memang kupendam cukup dalam dalam hari-hariku. Inilah yang harus aku akui bahwa segala hal memang patut untuk diperjuangkan, bahwa segala sesuatunya akan memiliki nilai yang teramat berat yang akan menggoreskan garis tertanam. Menjalani memang tidak semudah bayangan dan pemikiran untuk menjalaninya.
Dan aku masih manusia yang memiliki kelemahan dan kekurangan serta keterbatasan. Aku memiliki berbagai kelemahan dalam menahan apa yang kurasa. Rupanya aku “Masih Terasa Duka” dan belum bisa memiliki kerelaan seperti yang kuharapkan bisa kumiliki. Namun tidak ada salahnya jika aku ingin bisa tegar. Seandainya saja aku tak buka halaman-halamanmu dulu. Seandainya saja tak kukenangkan lagi rasa duka ini dalam hati. Seandainya saja bisa kubuang semua lara yang kurasakan. Salahkah aku merasakannya?
