Fight against Fait
Judul ini bukan hanya sekedar pemanis seperti sebuah judul sebuah film atau sebuah prosa, agar pembacanya tertarik untuk mengetahui. Namun “Fight against Fait” pada judul ini adalah realita yang umumnya dihadapi individu di luar lingkup aman. Individu yang selalu mengexplorasi dan mengusahakan diri untuk memahami akan kehidupan dan hasrat kehidupannya. Individu yang berani mengambil langkah beresiko yang terkadang berkesan extremis.
Pertempuran sesungguhnya selalu terjadi pada kehidupan manusia. Dari hal terkecil sekalipun, dalam proses menemukan solusinya selalu melalui proses dan polemik pertempuran, baik itu berupa perang argumentasi, perang prioritas serta berbagai alasan lainnya yang selalu saja menjadi dasar pemikiran dalam penentuan keputusan atas solusi terbaik menurut versi yang kita inginkan.
Pagi ini aku pun mengalami hal yang sama. Mengalami masa dimana harus berhadapan dengan Faith. I have to Fight against Faith. Hanya saja mungkin tingkat permasalahannya akan dipandang berbeda oleh orang lain, karena permasalahan yang kuhadapi memang maha unik. Permasalahan yang berhubungan dengan asa, hasrat dan masa depanku. Jadi sudah ngga bisa main-main, ditambah pula bakal mempengaruhi pribadiku secara mendalam dan tentunya akan merubah kepribadianku secara mendasar.
Pagi ini diawali dengan tidak sempat terlelapnya mata ini, aku melangkah diawali dengan sebuah doa dan ucapan kasih yang terlontar dari hati. Hanya saja memang berbeda, kala tingkat prioritas dihadapkan pada ego serta keinginan. Hari ini aku memutuskan untuk “melawan garis takdir” dengan mengalahkan ego dan keinginanku. Kutekan jauh ke dalam bilik duka terluar, agar tiada terasa terlalu menyesakkan di dada. Dan kubiarkan Prioritas mengambilnya dariku untuk hari ini. Akan kulemahkan inginku dahulu untuk sesaat.
Today is your day, and it might be not yet my day. Even thought I pushed hard my need, my feeling and my dreams, I might be win but it will affected to hurt to many people. That’s why i decided to be passion. Mengalah memang kalah. Tak seperti kata orang mengalah untuk menang. Hanya saja dengan mengalahku ini, aku hanya melukai rasaku saja, tidak melukai rasa orang lain. Yang artinya dosaku tak bertambah.
Sebagaimana manusia pada dasarnya adalah mahluk egois yang penuh dengan hasrat, begitu juga denganku. Namun, berbagai hal yang terjadi sejak semalam, sekian banyaknya doa yang diperdengarkan, sekian banyaknya dukungan yang kudapat, serta sekian banyaknya pernyataan yang menguatkan aku telah dipertontonkan oleh Hyang Paramakawi kepadaku. Maka kini “ada keyakinan besar” yang mampu mematikan segala cemas dan ketakutan.
Sebuah keyakinan besar, bahwa Hyang Paramakawi selalu melimpahkan yang terbaik bagi umatnya, sekalipun dilimpahkannya bencana dahsyat dan duka mendalam. Sebab sedetik kemudian hingga masa depan adalah kepunyaanNya saja. Maka hanya Hyang Paramakawi saja yang tahu rahasia di balik ini semua.
Maka bisa kunyatakan bahwa aku bukanlah kamu, aku tetap aku yang seperti kemarin, aku adalah aku yang tetap bersuka, aku adalah aku yang tetap berduka, aku adalah aku yang juga manusia, namun Aku adalah CiptaanNya yang penuh dengan berkah dan karunia. Maka dengan kalahku kini, aku tetap bersyukur kepada Hyang Paramakawi.
