Bahagiakah Aku?
Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini aku digetarkan dengan sebuah pernyataan yang lebih merupakan sebuah pertanyaan buat bathinku. Bahagiakan Aku di kondisi ini? Siang ini aku sedang merindu dan berharap, diantara keterpurukan serta jepitan berbagai masalah yang dihadapku. Diantaranya memang skema prioritas tak lagi bisa kujalankan dengan baik.
Skema dan skala prioritas yang terplot, tiba-tiba saja terombak dengan sendirinya, dengan berbagai alasan dari otak kiri ini yang disebabkan rasa di bathin dan pikir yang kalut. Lagi terngiang tanya yang satu ini….. Bahagiakah Aku????
Kuakui aku “bahagia” saat ini jika kuingat betapa beruntungnya aku, dan betapa sayangnya Ida Hyang Widhi Wasa kepadaku. Hanya saja bersamaan dengan itu, ada pula lara yang juga terbersit, kala otak logika ini bergerak sedikit melangkah ke posisi penanggalan berikutnya. Berbagai kekhawatiran dan ketakutan akan kesendirian muncul dengan santernya. Ada celah kecil antara prevention dan awareness yang menghujam di kepala dan dikirimkan ke hati melalui sinyalnya yang mengalahkan sinyal EDGE.
Sejenak aku tertegun dengan berbagai kata bijak seorang sahabat yang kuyakini telah lebih dewasa dan lebih mature dalam pola berpikirnya dan keimanannya, bahwa tiada perubahan yang dilakukan oleh orang lain, perubahan hanya terjadi karena diri kita sendiri. Gubbbraaakkkkkk…..!!!!!!
Sekarang, justru tanyaku bertambah. Tidak hanya sekedar menanyakan apakah aku bahagia, tapi bagaimana aku bisa merubah agar aku bisa mendapatkan bahagia itu? Makin pusing aja deh rasanya kalo dipikirin. Belum habis juga mikirin persepsi yang baru ini, eh…. kepala ini dah muncul dengan memory lain mengenai “Rwa Bhineda”. Sebuah konsep keseimbangan dalam hidup manusia, dimana ada hitam akan selalu diikuti dengan putih yang setara, sebuah harmonisasi alam kehidupan Manusia.
STAGNAN sudah. Mungkin bener juga bahwa aku harus lepas dulu sejenak untuk mengistirahatkan kepala ini dari berbagai penyakit pikiran seperti yang sedang kualami saat ini. Mungkin harus aku tenangkan dahulu bathinku dengan melepas pikirku sejenak. Arraaaaggghhhhhhh………….!! akhirnya ada satu hal yang sedikit bisa masuk akal dan bisa menenangkan hati dan pikiranku sore ini.
Bahwa Bahagia, kebahagiaan, dan sukacita seharusnya bisa menyerupai kehidupan dari seekor bunglon. Bunglon yang sempet aku foto pagi tadi ternyata memberikan pencerahan dan memberikan solusi tengah bagi kepenatan jiwa ini. Bunglon yang tak sengaja ada di depanku membuatku teringat akan kemampuannya untuk menyeimbangkan diri sesuai dengan lingkungannya. Sebuah kemampuan kamuflase yang luar biasa adanya. Menyamarkan realita dengan ekosistemnya.
Jika saja kemampuan kamuflase ini bisa kuterapkan pada pikiran dan hatiku maka mungkin aku bisa bahagia. Jika saja aku bisa menyamarkan segala dukaku, maka aku akan bisa berbahagia. Seperti bunglon tadi yang bisa menjadi hijau pada lingkungan dedaunan dan menjadi coklat manakala ada di batang pohon.
Yang menjadi permasalahan kini adalah, apakah Bahagia itu adalah sebuah Kamuflase belaka???? Jika memang begitu adanya, maka apakah aku bahagia? Jika saja kutanyakan kepada sahabatku yang kutuakan, maka jawabnya aku sudah tahu, “De, hanya kamu saja yang bisa menjawab pertanyaan ini, bukan orang lain, bukan pula saya……”
Tapi secara garis besar, Aku bahagia untuknya. Aku sangat berbahagia atas segala berkah dan karunia dari Hyang Widhi Wasa, sekalipun diikuti dengan berbagai lara dan duka yang menyertainya. Aku Berbahagia Sekali.
