Tak Bisa Kuingkari
Hari ini memang berbeda sangat dengan hari-hari sebelumnya. Sebuah hari yang maha besar dalam ukuranku sebagai manusia. Sebuah hari dimana masa depan dan segala tumpahan harapanku dipertaruhkan. Sebuah hari yang mana antara ketabahan dan kepasrahan atas kekuatan Maha Besar Hyang Paramakawi atas segala duka dan gelisahku diuji hingga batasannya tertinggi. Hari dimana kami dihadapkan pada realita yang memaksakan harus kulewati, dengan segala kemampuan dan ketabahan yang kami miliki. Sebuah hari dimana kuyakini ada bahagia dan duka tiba dan terasa secara nyaris bersamaan.
Duh Hyang Paramakawi, minab niki sane kewastanin antuk Rwa Binedaning kahuripan manusa. Miribang mule jani sube rage maan peduman jele tekening melah, bagia tekening lara ane sibarengan ngeranang sakit duure. Tusing je saje lamen tiang ngorahang tusing je bakat sangetang. Memauk lamen rage ngorahan kondisi sane jani ene, rage sing je merase kelare. Sing je ngida’ang mbelog-mbelog manah ragene, yening rage kelare merase sanget sajan pedih asane.
Sanjane tunian sube benyak punyan biu’ne bakat anggon sasaran gemelan irage. Aget masih sing je anake lenan bakat anggon sasaran. Mirib tusing je ngidang nden rage total ngisidang dewek uli gumine keras, uli gumine otot.
But, I know one day in the future, I will totally returned to the normal way. Not the hardway that I used to be on. Hei… come’on I am still in a process. It can not be changed just simple like flipping my hand brother. I need a process. Some how, while I had a huge scared and stressed like what I feel today, I still need my adrenaline were abbused to let it feel free.
My appologize, I couldn’t fulfilling my promise to be a “normal” and safe guy. Yes, I do mistake by pushed my motorbike in to the maximum limit this yesterday and specially this afternoon. Yes, I am also appologize cause I still had made a “fight” with others tonight, just because my ego and emotion. But please, do not think that I do it for my habit. It was done only because I still need some abbused adrenaline to keep my head not blowed away.
Sakjane aku meh wae ra kuat ngadepi ngelune ndasku. Meh aku ra ngatasi rasane keweden. Tapi setidaknya kini aku bisa pasrahan kepada Hyang Paramakawi saja. Rupanya dengan begini aku bisa sedikit merasa lebih rasional. Kubiarkan “KehendakMu Hyang Paramakawi yang terjadi, sebab Engkaulah yang pahami aku lebih dalam, karena Engkaulah penciptaku”. Kubiarkan saja dulu dengan kerelaan dan pemahaman yang kupunya untuk berdamai dengan kecemasanku yang mendalam. Mungkin kubiarkan saja aku dalam posisi mengalah saja pada garis hidup ini untuk sementara, sebelum nanti kan kuperjuangkan kembali.
Doaku dan harapku akan bahagia bagimu, hanya itu yang bisa kupanjatkan dan kumohonkan kepada Hyang Paramakawi. Sebab telah lelah kumenahan gelisah ini. Tapi jangan ragukan apa yang kubisa, dan apa yang kupunya buat kita.