Om Swastiastu,

My name is Gde Wibisana Singgih Wilasa, But some of friends called me Tualen or Malen. Born in Semarang, Central Java on 1979. Yes, I am old enough. I have family and also have kids with me. Live in Canggu, Nort Kuta. Bali. Wishes for all best in your life and my live always. And might God blessing all of us with fortune and talent.

Jam Kosong Satu

Selangkah maju kupandangi jam di dinding masih menunjukkan angka sembilan. Huphhh, masih panjang rupanya penantian yang harus kulakukan. Masih beberapa jam lagi sebelum akhirnya tiba waktunya jam Kosong Satu. Udara malam semakin terasa sedikit memberi.kan kesejukan, berbanding terbalik dengan siang tadi yang terasa panas.

Setengah kehilanganku telah terlampau, telah termaklumi di dalam hati ini. Namun kini, entah kenapa ada lagi rasa yang mengusikku dengan sedikit menyiksa. Lagi-lagi kepala ini dipenuhi dengan pikiran dan analisa. Dasar…. kenapa tidak berhenti saja sejenak kepala ini memberikan analisa dan pikiran-pikirannya ya? Kenapa tak dibiarkannya aku bisa tertegun sedikit tenang sih???

Selang beberapa saat kulihat kedip lampu yang tak kunjung menjadi merah. Arghhh…. menanti dan menanti memang suatu hal yang tidak bisa aku pahami dimana letak kenikmatannya. Waktu serasa sangat perlahan berputar. Setiap detik perpindahan jarum jam serasa teramat lambat. Sedetik terasa semenit lamanya. Terlalu banyak hal yang berputar di kepala ini dalam satu detiknya. Sungguh maha besar Hyang Mahakuasa menciptakan otak manusia yang bahkan bisa mengalahkan kerja sebuah prosessor Intel Core i-7 yang memiliki 256 bit sistem kerjanya.

Seolah tiada lelahnya otakku memberikan komando melirik kedipan lampu hijau yang tak kunjung merah, kembali kekecewaan sedikit muncul. Diantara kekecewaan tersebut, otak logikaku memberikan alasan yang sangat masuk akal sehingga bisa kutenangkan hasrat ini sedikit lebih lama dibanding sebelumnya. Mungkin memang belum masaku, belum saatku. Sejenak tertegun pada kerlipan lampu merah, namun ternyata bukan merah yang kunantikan.

Sesekali, kudengarkan lantunan doa yang memang sengaja dari sejak siang tadi aku putar berulang-ulang, buat menenangkan hati dan jiwaku pada saat-saat ini. Agar tiada aku salah melangkah, sehingga tiada luka dan dosa yang terjadi karena gundahku ini. Sungguh perasaan yang tak menyenangkan mengetahui namun tidak bisa melakukan suatu apapun. Tuhan memberiku kelebihan mengetahui sesuatu namun tak memberi kesempatan untuk bertindak. Tapi, tetap aku syukuri, bahwa dengan seperti ini, Hyang Paramakawi sedang dengan sengaja memberiku pelatihan, menempa bathin dan ragaku secara luar biasa.

Akhirnya kutekadkan bahwa sudah saatnya untuk menjadi dewasa dalam kondisi seperti ini. Bukankah sudah menjadi komitmenku sendiri dan keputusanku sendiri? Maka kini aku harus lakukan semaksimalnya. Harus kuat mempertahankan konsistensi dan mampu memendam dalam-dalam luka ketidakmampuanku, keterbatasanku dan egoku untuk bisa tetap memberikan janjiku untuk menunggu.

Kan kutunggu hingga nanti Jam Kosong Satu, kan kutunggu kesempatan untuk memperoleh kerlipan lampu warna ini menjadi merah. Kan kutunggu peruntunganku tuk dapatkan apa yang kutunggu. Kan kupertaruhkan rasa dan hati ini hingga Jam Kosong Satu nanti. walaupun kutahu tanpa kuperoleh pun aku akan tetap menunggu dan berjuang. Doa dan harapku kan mengiringi penantian ini, Hingga jam Kosong Satu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Go back to top