Om Swastiastu,

My name is Gde Wibisana Singgih Wilasa, But some of friends called me Tualen or Malen. Born in Semarang, Central Java on 1979. Yes, I am old enough. I have family and also have kids with me. Live in Canggu, Nort Kuta. Bali. Wishes for all best in your life and my live always. And might God blessing all of us with fortune and talent.

Pelajaran Demokrasi Bangsa

Mungkin anda juga mendengar dan mencermati apa yang sedang terjadi pada negeri ini. Sebuah Polemik Korupsi oleh para Politisi yang semakin memporak porandakan keyakinan rakyat, utamanya keyakinanku pada pemerintahan ini. Seolah jika hanya melihat secara kasat mata, Demokrasi negeri ini seolah mengajarkan kepada rakyat bagaimana kita melakukan kejahatan kemudian melupakan atau mengingkari tanggungjawab moral baik kepada rakyat dengan berbohong yang sesuai dengan aturan hukum.

Mengenai fee dan komisi, kalo saya pribadi sebagai pengusaha dan marketer yang lama di dunia ini, prosesi upeti ini adalah hal yang biasa. Hanya mungkin yang karena jumlah dan penyelewengan posisinya yang menyebabkan hal ini menjadi besar. Ini adalah “joked analysist” yang timbul begitu saja di kepalaku saat ini. Read more…

Beda Berita Dulu dan Masa Kini

Melihat dan mencermati (jiah… Sok pemerhati nih bahasanya) pertelivisian dan perkembangan penyajian berita belakangan ini – Aku kok serasa melihat telah terjadi pergeseran paradigma dari pengartian sebuah sajian berita.

Berita yang ada pada saat ini aku bandingin dengan jaman pertelevisian masih dimonopoli sama satu stasiun teve pemerintah + satu stasiun teve yg katanya pendidikan + satu stasiun pertelevisian milik swasta. Kalo ndak salah jaman tahun 90′an dulu deh rasanya. Nah, lawannya pada masa kini di saat ini pada saat artikel ini direlease.

Alhasil setelah memperhatikan dan mengingat-ingat dengan keterbatasan memoriku, berikut beberapa perbedaan yang kudapati :

Aktualisasi Sebuah Berita.
Jika pada jam dahulu (masa lalu) berita yg dipertontonkan di teve adalah berita yg aktual walaupun terkadang kurang nyata. Nah kalo yang jaman kini, beritanya kadang tidak aktual, kadang diangkat dari sebuah opini, dan terkadang justru tidak bisa dipercaya.

Pemirsa Berita.
Kalau jaman dulu kita denger berita cenderung merasa nyaman, aman, tentram dan mudah untuk mencerna maksud dan maknanya. Lah kalo sekarang, denger berita aja bikit was-was, ditambah lagi suka bingung karena versinya banyak pilihan. Yang parah justru menciptakan polemik dan opini yang diarahkan sesuai alur narasi dari pembawa berita dan irama pengiringnya.

Formalitas Sebuah Berita.
Kalo jaman dulu kita lihat penyiar berita selalu bersopan santun, memiliki integritas dalam bertanya dan sopan. Nah kalo jaman sekarang ini sangar. Sudah kadang cumen berkemeja doang, dengan kurang sopan pula bertanya, malah terkesan justru memojokkan dan mencari2 penegasan statement dari narasumbernya yang nantinya akan dipergunakan sebagai dasar statement beritanya secara heboh.

Fungsi Dasar sebuah Berita
Dulu, berita merupakan sebuah perpanjangan berita dari sebuah fakta dan aktual cerita yg diinformasikan kepada pemirsa. Nah kalo sekarang ini, berita justru bergeser fungsinya sebagai sebuah tontonan mencari rating pemirsa, dengan menggunakan asas penyidikan, yang seolah-olah ingin mencari dan menggali kebenaran dari sebuah rumor atau opini publik.

Beda Utamanya Yang Miris.
Dulu berita seolah merupakan pencerahan dan membuka cakrawala pikiran dan pengetahuan pemirsa. Kalau sekarang lebih menyerupai sajian SINETRON, dimana berita didramatisir dan dibuat berkepanjangan dengan menggunakan talkshow, berbagai nara sumber untuk makin membingungkan pemirsanya.

Maaf kalo ada yang tersinggung. Maklum Gde Malen memang asal ngejeplak aja. Lagian ini khan cumen pendapat saya di blog saya, bukan sebuah BERITA seperti yg anda pertontonkan….!!!!

Renovasi Banggar 20 Milyar

Denger berita ini kok ya rasanya penulis pengen ketawa terbahak-bahak ya? Jika angka 20 Milyar ini digunakan untuk membangun sebuah kompleks Villa di Bali, mungkin penulis ngga heran berhubung harga tanah yang tinggi dan tingkat ekslusifitas yang dibutuhkan untuk sebuah hunian villa di Bali. Yang aneh adalah, seorang teman punya villa di lingkungan kerobokan dan hanya menghabiskan 3 Milyar rupiah untuk membangun hunian super mewah lengkap dengan isinya yang tergolong Hi-Tech dan ekslusive.

Yang menjadi aneh kala ruang rapat yang hanya DIRENOVASI dengan ukuran yang seukuran ruang rapat di hotel di Bali, rupanya bisa menghabiskan dana anggaran hingga 20 milyar jumlahnya. Busyet dah. kalo saja ini dipakai bangun villa di bali saja bisa dapat lebih dari sepuluh villa yang maha luar biasa. Anehnya lagi statement Sekjen Banggar yang mengatasnamakan “Kebutuhan Teknologi Masa Kini” yang lebih menjadi aneh lagi. Teknologi yang seperti apa sih yang menyebabkan nilainya sedemikian fantastis. Read more…

Isu Bombing Bali

Om Swastiastu,

Hari ini Sabtu 14 Januari 2011, diawali dengan berbagai posting yang kubaca di BBm dan berbagai status kawan-kawan di media sosial yang menyatakan, menginformasikan dan beberapa bahkan memastikan adanya ancaman bom yang sedang berlangsung di Bali. Di depan Hartono Mercy Kuta, atau depan kantor Pia Legong.

Sedikit terperanjat dengan beredarnya berita ini. Namun ada sedikit hal yang aneh dalam diri ini. Beberapa kawan juga menginformasikan pengalihan lalulintas yang dialihkan pada bypass ngurahrai ke arah Tuban. Bathinku, oh ini adalah standar operasi pengamanan jika ada ancaman bom.

Beberapa saat kemudian aku kembali membaca bahwa “…. Satu bom sudah diledakkan oleh Gegana” pada salah satu status social media seorang kawan. Akhirnya kucoba juga tanya sini dan sana memastikan. Rupanya aku dpt konfirmasi bahwa dus yg diledakkan oleh Gegana berisikan DVD belaka. Humpf…. Bathinku bersyukur. Read more…

Pernikahan Ibas Aliya

Terlepas dari berbagai pikiran orang bahwa Pernikahan Ibas – Aliya berkiblat pernikahan politik, atau berbagai spekulasi lainnya. Kali ini penulis tertarik dengan bagaimana sebuah pernikahan putra presiden mendapat liputan media yang luar biasa besarnya. Beberapa stasiun televisi menjadikan perhelatan ini sebagai siaran langsung yang secara otomatis menggeser acara-acara lainnya, mempertontonkan pertunjukan secara akbar yang dibuat sedemikian hebohnya dengan branding “Keragaman Budaya Indonesia”. Akhirnya, Istana Peristirahatan Presiden menjadi tempat gelar akbar pernikahan seorang Putra Presiden. Read more…

Go back to top