Om Swastiastu,

My name is Gde Wibisana Singgih Wilasa, But some of friends called me Tualen or Malen. Born in Semarang, Central Java on 1979. Yes, I am old enough. I have family and also have kids with me. Live in Canggu, Nort Kuta. Bali. Wishes for all best in your life and my live always. And might God blessing all of us with fortune and talent.

Kutunggu Kabar

Menunggu, mengantri dan sebagainya adalah hal yang paling kuhindari dalam hidup ini. Namun terkadang realita memang memintaku untuk bertahan dalam penantian. Untaian kata ini dubuat dalam pe”nunggu”an ku yang kulakukan saat-saat ini. (Tualen, 19 Nop 2011)

Tak seperti hari-hari sebelumnya,
Hari kemarin dan hari ini ada yang menghilang,
Ada yang kurang dari biasanya,
Ada yang jarang dalam setiap inginku.
Read more…

Secangkir Kegelisahan

Sembari menyeruput kopi Merk Kopi Luwak, yang dibeli oleh sahabatku dan diseduh dalam cangkir-cangkir kecil oleh sahabatku satunya. Kulantunkan dan kutuliskan kata-kata ini yang mungkin tak ada artinya buat mereka. Namun penuh makna bagiku, sekedar untuk menorehkan apa yang kurasakan pada saat itu. (Tualen, 18 Nopember 2011 – Menjelang Subuh)

Toko sahabatku tak lagi terang benderang,
Meredup seiring makin gelapnya malam,
menghening iringi habisnya topik bicaraku,
hanya suara tuts keypad yang terdengar jelas.
Read more…

Satu Lewat Sebelas

Lewat tengah malam, tepatnya pukul 01.11 waktu indonesia tengah (wita) – terhenyak dalam sadar bahwa waktu telah menjauh pagi kini. Tapi mataku masih enggan untuk mengantuk. Masih ada berbagai hal yang kurasa, yang kutorehkan dalam tulisan ini. (Tualen, 18 Nopember 2011 – Lewat Tengah malam)

Pukul satu lewat sebelas,
Bulan sebelas tahun dua ribu sebelas,
Kala disaksikannya gelisahku malam ini,
Menjadi saksi ketakutanku kala itu.
Read more…

Rindu Merdumu

Terkadang keinginan manusia untuk mendengar dan selalu mendengar hal indah dari yang menyayangi dan mengasihi adalah sebuah kebutuhan yang tak terelakkan. (Tualen, 18 Nopember 2011 – Dinihari)

Lantunan suara alam terdengar di telingaku kini,
Desisan serangga malam penuhi jagar raya ini,
Lantunan nada doa heningkan malamku,
Namun tak ada kudengar merdu suaramu.
Read more…

Pembatasan Jarak

Kala memandang seberkas cahaya lampu penerangan jalan, di sebelah timur tempatku berteduh. Cahayanya terhalang oleh ranting dan dedaunan sebuah pohon yang menjulang cukup tinggi, muncul keinginanku untuk menuliskan ini pada gadget sebuah handphone, dan kini kurekap ulang pada blog pribadiku. (Tualen, 17 Nopember 2011 – Tengah Malam).

Cahaya di ujung jalan terhalang,
Cahaya sebuah lampu jalan yang tak sampai,
Cahayanya terhalang carang pohon,
Cahayanya diredupkan oleh jarak pandangku.
Read more…

Kujaga Dengan Doa

Sebuah prosa doa yang tercipta diantara penatnya jiwa, diantara kegetiran dan kegelisahan yang sedang mendera. Sebuah pengakuan sekaligus pengingkaran yang dituangkan dalam poetry bebas. (Tualen, 18 Nopember 2011-Dinihari)

Malam semakin gelap menjadi pagi,
Rembulan telah semakin jauh kearah beda,
Bahkan dingin malam telah menusuk makin dalam,
Jalanan pun lengang sunyi tak terdengar lagi.
Read more…

Dibalik Awan

Sebuah prosa yang tercipta begitu saja, ketika melungok diantara dua pintu besi, toko seorang sahabat di Dalung Permai. Begitu indahnya hingga memberikan kenangan buatku dan hatiku. Dibuat bagi yang kurindu sepanjang hari ini. (Tualen, 18 Nop 2011)

 

Diantara daun pintu besi,
Kupandangi putih awan diantara kegelapan,
Kuperhatikan rembulan di balik awan,
Kunikmati spektrum cahaya yang terpantul.
Read more…

Go back to top