Pendidikan Anak Usia Dini
Tidak seperti kebanyakan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) yang banyak digembar-gemborkan dalam berbagai iklan sekolah untuk anak usia dini, Pendidikan yang berdasar dan berbasis pada pendidikan Rumah Tangga rupanya masih merupakan pendidikan yang paling utama.
Percaya dan tidak hubungan antara orang tua, umumnya Ibu terhadap anak-anaknya merupakan hubungan yang tidak terlepaskan dan tidak hanya sekedar hubungan profesionalitas belaka. Namun hubungan ini lebih didasarkan kepada hubungan kasih sayang yang tentunya akan memberikan berbagai kemudahan bagi si anak untuk bisa menerima berbagai instruksi, arahan dan didikan dari orang tua mereka.
Tidak seperti pada pendidikan persekolahan yang hubungan antara siswa dan gurunya lebih pada hubungan profesionalitas dan hubungan dengan pendekatan fungsi (segan, takut, liturgal), maka si anak akan menerima pendidikan di sekolah sebagai sebuah aturan yang memaksakan. Sehingga tidak jarang terjadi bahwa anak menjadi stress atau tertekan dalam melakukan berbagai kegiatan dan tindakannya sesuai apa yang diinginkan oleh gurunya.
Ingat bahwa Pendidikan Anak Usia Dini yang kita berikan kepada anak-anak kita, pada dasarnya adalah untuk memberikan dan menciptakan karakter tersediri dan mengetahui ketertarikan anak kita sehingga nantinya kita sebagai orang tua lebih mudah mengarahkannya di pendidikan berjenjang lanjutan di kemudian hari. Dengan kata lain, kita tidak ingin membentuk atau memaksakan anak untuk melakukan atau bertindak tanpa berdasarkan pada ketertarikannya sendiri.
Penulis percaya bahwa setiap individu anak yang lahir ke dunia ini telah memiliki talent atau berkah kemampuan dan ketertarikannya sendiri-sendiri sesuai dengan lingkungannya. Sehingga, jika semisal pada PAUD anak kita dipaksa sesuai struktural garis pendidikan maka ketertarikan dan karakter anak kita justru akan terbentuk sesuai dengan iklan dan janji institusi pendidikan tersebut. Maaf, masih jarang pendidikan anak usia dini yang menyesuaikan dengan anak kita lho ya……
Jadi, pada dasarnya saya lebih memilih untuk mendidik si anak sendiri, dengan memanfaatkan eksistensi hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak, yang lebih menekankan pada ketertarikan dan pembentukan karakter dari si anak bersesuaian dengan keinginan dan ketertarikan mereka sendiri. Bukan atas keinginan dan target kurikulumnya.
(Tualen, Badung. 23 Nopember 2011)