Selamat Jalan Putriku,
11 Januari 2012, hari bahagia atas hadirmu ke dunia ini. Sebuah kelahiran putri yang lama kunantikan, yang menjadi pelengkap bahagia hidupku. Entah berapa kali kecup kulayangkan pada beberapa menit pertama kelahiranmu. Seolah mendapat jackpot, aku sangat bahagia atas hadirmu.
Sebuah kebahagiaan yg penuhi hasrat jiwaku, walaupun rupanya hanya 8 hari lamanya kurasakan sejak hadirmu, Ni Nyoman Galuh Kalpikasari. Tanggal 19 Januari 2012 – tiada lagi senyum dan canda denganmu. Pukul 15.30 wita, kala sore waktu mandimu – ketegangan terjadi. Kami yakini ada sesuatu yang janggal denganmu putriku.
Waktu serasa terhenti seiring keteganganku hadapi apa yg terjadi. Pukul 19.00 akhirnya rujukan membawamu ke IRD RSUP Sanglah. Derita dan duka mulai menyelimutiku. Ibumu tak lagi mampu melihat deritamu. Berbagai cara telah dilakukan, diupayakan secara medis. Sebuah perjuangan yang luar biasa dari dokter dan perawat IRD Sanglah yang sungguh diluar prediksiku. Segala trauma atas layanan RSUP yang kupunya mendadak sirna atas keteguhan dan ngototnya dua dokter jaga anak IRD dan tiga perawat jaga yang dengan setia mempertahankan nafasmu.
“Harapan bagi putri Bapak, teramat kecil. Tapi kami tetap berusaha semaksimalnya, dan kami janjikan ini. Selama masih ada detak jantung adik, kami tetap usahakan”
Sebuah statement yang memukulku pada 2 (dua) realita. Sebuah kondisi yang teramat berat sekaligus sebuah dukungan yang Maha besar. Umurmu terlampau muda untuk hadapi perawatan medis yang begitu luar biasa. Dan aku sadar, betapa putriku juga berusaha dan berjuang sangat keras untuk bisa bertahan bersama ayahandanya memberi harap dan peluangnya.
Hingga akhirnya pukul 22.30 malam, setelah sekian jam perawatan akhirnya aku, ayahmu dan ibumu hanya bisa berserah kepada Hyang Paramakawi dan mendoakanmu. Kami tak lagi kuasa utk melihatmu menderita seperti ini. “Kami hanya memanjatkan doa pendek namun padat. Jika memang engkau hendak tetap bersama orang tuamu maka sembuhlah. Namun jika memang hendak kau tinggalkan kami, maka berangkatlah putriku. Kami relakan dan serahkan segalanya pada Hyang Paramakawi.”
Subuh di hari Sabtu, subuh pada tanggal 21 Januari 2012 diawali dengan hujan lebar. Tangisan bumi mengiringi pula ayahmu yang tengah menangisimu. Pukul 0430 diantarkan oleh seorang kerabat di utara, aku ayahmu dan nenekmu menjemputmu dari rumah Jenasah untuk kami antarkan ke pemakaman, peristirahatanmu terakhir. Setra Meduwi, tempat peraduanmu terakhir. Selamat jalan Putriku tersayang.